Wacana penerapan Kurikulum Artificial Intelligence (AI) dan Coding di Kota Depok merupakan respons cepat pemerintah daerah terhadap kebijakan nasional dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang mulai diimplementasikan secara bertahap pada Tahun Ajaran 2025/2026.
Di Kota Depok, wacana ini tidak lagi sekadar rencana di atas kertas, melainkan sudah mulai diwujudkan melalui berbagai persiapan infrastruktur, kerja sama strategis, dan pelatihan tenaga pendidik.
1. Status Kebijakan & Skema Pembelajaran
Berdasarkan arahan pusat yang didukung oleh DPRD Kota Depok, mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) diposisikan sebagai mata pelajaran pilihan. Alokasi waktunya dirancang sekitar 2 jam per minggu untuk siswa kelas 5 dan 6 SD, serta jenjang SMP dan SMA.
Bagi sekolah yang belum memiliki fasilitas komputer lengkap, Kemendikdasmen menyiapkan skema pembelajaran unplugged (tanpa internet menggunakan aplikasi lokal) atau berbasis permainan logika buatan guru agar keadilan akses tetap terjaga.
2. Langkah Nyata Persiapan di Kota Depok
Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Pendidikan telah bergerak aktif melalui beberapa program:
Pelatihan Guru Massal: Dinas Pendidikan Kota Depok telah menyelenggarakan workshop pembelajaran AI dan Coding untuk puluhan guru dan kepala sekolah tingkat SD dan SMP. Salah satu langkah terbarunya adalah kolaborasi bersama program studi Teknik Informatika Universitas Dian Nusantara (UNDIRA) yang membekali guru-guru SMP yang tergabung dalam MGMP Informatika Kota Depok.
Kerja Sama Akademik: Depok menggandeng Artificial Intelligence Center Indonesia (AiCI) yang berafiliasi dengan Universitas Indonesia (UI) untuk menyusun serta menguji coba kurikulum AI dan Coding yang siap diterapkan di sekolah-sekolah setempat.
Proyek Percontohan (Pilot Project): Beberapa sekolah di Depok sudah mulai mengadopsi pembelajaran ini. Contohnya, siswa di SDN Mampang 1 Depok yang telah mempraktikkan block-based coding menggunakan ScratchJr melalui program beasiswa digital. Di tingkat menengah, SMP Muhammadiyah 1 Depok juga ditetapkan sebagai sekolah model untuk pembelajaran mendalam coding dan AI.
3. Tantangan Utama yang Dihadapi
Meskipun didukung penuh oleh legislatif daerah untuk mencetak generasi yang kompetitif, penerapan kurikulum baru ini di Depok menghadapi beberapa tantangan nyata:
Kesenjangan Fasilitas: Tidak semua sekolah dasar negeri di Depok memiliki laboratorium komputer yang memadai.
Kesiapan Kompetensi Guru: Mengubah guru umum atau guru TIK biasa menjadi pengajar coding/AI yang kompeten membutuhkan waktu pelatihan yang berkelanjutan, bukan sekadar workshop singkat.
Etika dan Keamanan Digital: Kurikulum ini ditekankan harus berfokus pada etika penggunaan AI, sehingga siswa tidak hanya sekadar memakai teknologi untuk jalan pintas tugas sekolah melainkan memahami cara kerja logikanya secara bijak.